Artikel
Sulut 2026: Melompat di Angka, Tercecer di Sawah
Oleh ; Stefy Edwin Tanor SE, Ak, MM
Memasuki satu tahun masa bakti kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay di Sulawesi Utara, kita dihadapkan pada sebuah potret ekonomi yang menarik untuk dibedah secara objektif. Sebagai daerah yang secara geopolitik menjadi gerbang Pasifik, angka-angka pertumbuhan yang dirilis baru-baru ini memberikan angin segar sekaligus tantangan reflektif bagi kita semua. Harus diapresiasi kepemimpinan di Sulawesi Utara yg relatif baru namun memberi angka pertumbuhan ekonomi yg hebat dan prestisius.
Panggung Depan: Apresiasi atas Stabilitas Makro
Jika kita membaca laporan ekonomi terbaru, tidak sulit untuk memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang bertengger di angka 5,66% (y-on-y) bukanlah capaian yang bisa dipandang sebelah mata. Angka ini secara gagah melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di kisaran 5,11%. Dari kacamata statistik, mesin ekonomi Bumi Nyiur Melambai sedang berada dalam kondisi “lari kencang”.
Berikut adalah potret indikator makro Sulawesi Utara per Maret 2026 yang menjadi dasar capaian tersebut:
| Indikator Ekonomi Utama | Capaian (y-on-y) | Status |
| Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) | 5,66% | Sangat Baik (Di atas Nasional) |
| Sektor Jasa (Akomodasi & Kuliner) | 20,67% | Melompat Tinggi |
| Industri Pengolahan | 9,97% | Bertumbuh Positif |
| Ekspor Luar Negeri | 28,42% | Sangat Agresif |
| Inflasi Daerah | 2,50% | Terkendali |
Pendorong utamanya terlihat sangat dinamis. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum melesat hingga 20,67%. Ini adalah sinyal bahwa geliat pariwisata dan gaya hidup masyarakat perkotaan kembali bergairah. Di sisi lain, digitalisasi keuangan daerah juga menunjukkan performa luar biasa, di mana sinergi kabupaten/kota (termasuk Tomohon yang meraih peringkat kedua di Sulawesi) menempatkan Sulut di jajaran elit nasional dalam hal efisiensi transaksi daerah.
Realitas di Balik Angka: Krisis Sektor Produksi
Namun, bagi orang yang terbiasa membedah struktur biaya dan manajemen risiko, mereka merasa berkewajiban mengajak kita melihat lebih dalam ke “dapur” ekonomi kita. Pertanyaan mendasarnya adalah: Seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut jika sektor produksi dasar kita justru melemah?
Saat sektor jasa melompat tinggi, sektor pertanian dan peternakan kita justru tampak berjalan dengan nafas yang tersengal-sengal. Angka-angka indah di atas menyisakan realitas yang kontras di sektor produksi akar rumput:
| Sektor / Isu Strategis | Realitas L apangan (Mikro) | Dampak Ekonomi |
| Lahan Sawah (Tompaso Baru) | 70% Menjadi Lahan Tidur | Penurunan Produksi Beras Lokal |
| Struktur Biaya Peternakan | 70% Habis untuk Pakan Pabrikan | Margin Keuntungan Peternak Minus |
| Regenerasi Petani | Hanya 12% Petani Muda | Ancaman Keberlanjutan Pangan |
| Ketahanan Protein | Ketergantungan Suplai Luar (Bali) | Kerentanan Harga Daging |
Kecamatan Tompaso Baru di Minahasa Selatan adalah bukti nyata. Wilayah yang secara historis merupakan lumbung padi Sulawesi Utara, kini memprihatinkan. Saat ini, diperkirakan hanya sekitar 30% lahan sawah yang masih aktif. Artinya, ada 70% lahan produktif yang sedang tertidur lelap. Bertani padi dengan cara tradisional tidak lagi memberikan margin keuntungan yang layak bagi masyarakat kita, yang akhirnya memicu alih fungsi lahan dan urbanisasi.
Solusi Strategis: Integrated Farming System (IFS) 4.0
Untuk menjawab tantangan ini, kita butuh sebuah konsep utuh: Integrated Farming System (IFS). Ini bukan sekadar mencampur tanaman dan ternak, melainkan manajemen ekosistem pertanian untuk menciptakan ekstra pendapatan dan efisiensi biaya.
1. Mengganti Cangkul dengan Joystick: Daya Tarik Milenial
Kita harus jujur pada realitas zaman: anak muda milenial kita adalah generasi yang sangat praktis. Jika kita masih menyuruh mereka turun ke sawah dengan cangkul di tangan atau memanggul tangki semprot manual seberat 15 kg di bawah terik matahari, maka jangan heran jika mereka meninggalkan desa. Mereka tidak alergi dengan lumpur, tapi mereka alergi dengan inefisiensi, mereka lebih praktis.
Untuk menarik kaum muda, pertanian harus bertransformasi menjadi Smart Farming. Kita harus mendorong penggunaan Drone Agriculture untuk pemupukan dan penyemprotan. Satu unit drone mampu menyelesaikan pekerjaan satu hektar lahan dalam hitungan menit dengan akurasi tinggi. Bertani harus naik kelas menjadi aktivitas teknis yang elegan, di mana anak muda kita duduk sebagai operator mesin dan manajer data lahan, bukan buruh tani fisik. Penggunaan mesin panen modern dan kontrol lahan melalui ponsel pintar akan mengubah citra pertanian menjadi profesi yang “keren” dan bergengsi. Teknologi traktor Havester yg memanen hasil pertanian, lanjut ke mesin pengering dan berakhir di penggilingan padi. Jadi padi dipanen pagi, sore sudah didalam karung siap dijual.
2. Kedaulatan Pakan Mandiri: Substitusi Impor Berbasis Lokal
Setelah teknologinya siap, masalah kedua adalah biaya produksi. Peternak kita saat ini “tersandera” oleh harga pakan pabrikan yang menyita 70% biaya produksi. Ketergantungan pada bungkil kedelai impor adalah titik lemah yang harus diputus. Kita perlu mendorong penggunaan bahan pakan organik lokal yang tinggi protein:
- Protein Hewani dari Maggot BSF: Memanfaatkan limbah organik untuk menghasilkan larva kaya protein dengan biaya hampir nol.
- Protein Nabati dari Kelor (Moringa): Kelor adalah “superfood” nabati yang mampu menggantikan peran kedelai impor. Meski saat ini belum melimpah secara industri, Kelor memiliki profil protein nabati premium yang tumbuh subur di tanah Sulut. Industrialisasi Kelor sebagai bahan baku pakan adalah langkah teknokratis untuk lepas dari bayang-bayang impor.
3. Ekosistem Zero Waste dan Ekstra Pendapatan
Dalam konsep IFS, limbah pertanian diolah menjadi pakan, dan kotoran ternak menjadi biogas serta pupuk organik. Secara akuntansi biaya, biaya variabel ditekan mendekati titik terendah. Petani tidak hanya mendapat uang dari padi, tapi juga dari telur, daging, dan penghematan biaya energi. Inilah yang akan menjamin kesejahteraan mereka.
Penutup: Menuju Kedaulatan yang Sesungguhnya
Satu tahun kepemimpinan YSK-Victory telah berhasil meletakkan fondasi makro yang kuat. Namun, pekerjaan rumah besar menanti di sektor akar rumput. Mengaktifkan kembali lahan-lahan tidur melalui konsep pertanian terpadu, penggunaan teknologi modern (drone/mekanisasi), dan kedaulatan pakan mandiri bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan.
Kita ingin Sulawesi Utara yang tidak hanya tumbuh dalam angka statistik di atas kertas, tapi juga mandiri secara pangan. Saatnya kita mengajak kaum muda kembali ke sektor ini dengan jaminan bahwa menjadi “Pelaku Pertanian” adalah profesi yang terhormat dan sangat menguntungkan. Mari kita bangun kedaulatan dari setiap jengkal sawah dan setiap butir pakan yang kita hasilkan sendiri di tanah Bumi Nyiur Melambai.(*)