Manado
Menyalakan Kembali Bunaken: Antara Sampah, Gelap, dan Harapan
Manado, mediakontras.com — Keindahan Kepulauan Bunaken selama ini dikenal dunia sebagai surga bawah laut. Namun di darat, kisah yang berbeda perlahan mengemuka—tentang sampah yang tak tertangani dan gelap yang datang saat listrik tak lagi menyala.
Di ruang-ruang sunyi yang jarang disorot, dua persoalan ini tumbuh menjadi kegelisahan bersama. Bukan hanya bagi warga, tetapi juga bagi masa depan Sulawesi Utara yang menjadikan Bunaken sebagai wajah pariwisatanya.
Dari kegelisahan itulah, Reymoond ‘Kex’ Mudami angkat suara. Melalui Sulut Environmental Watch (SEW), ia mencoba menyalakan kembali kesadaran yang mulai redup.
“Bunaken tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Ia adalah kebanggaan kita, tapi juga tanggung jawab kita,” ujarnya.
Bagi Kex, persoalan Bunaken bukan sekadar soal teknis pengelolaan. Ia adalah cermin dari cara kita memperlakukan ruang hidup dan warisan bersama. Karena itu, SEW memilih untuk memulai dari yang paling mendasar—yang paling terasa, dan paling sering diabaikan.
Kebersihan dan listrik
Dua hal yang terdengar sederhana, namun justru menentukan wajah sebuah destinasi. Tanpa kebersihan, keindahan kehilangan makna. Tanpa listrik, kehidupan kehilangan ritme.
“Kita sering bicara besar tentang pariwisata, PAD, dan investasi. Tapi lupa bahwa kenyamanan dasar adalah fondasinya,” kata Kex.
Lebih dari sekadar kritik, SEW datang dengan ajakan. Ajakan untuk berhenti saling menunggu, dan mulai bergerak bersama. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat—semua dipanggil untuk kembali melihat Bunaken, bukan hanya sebagai tempat yang dikunjungi, tetapi sebagai rumah yang harus dijaga.
Sebab jika Bunaken terus dibiarkan dalam ironi ini, yang redup bukan hanya lampu di pulau itu—tetapi juga harapan tentang masa depan pariwisata yang berkelanjutan.
“Perubahan itu mungkin. Tapi hanya jika kita berhenti berpikir bahwa ini bukan urusan kita,” pungkas Kex.(*)