Artikel
Menerka Strategi OD di SK Rolling Pejabat Tomohon

Oleh: Deky Geruh, jurnalis
PEMBERITAAN di salah satu media online tentang keluarnya persetujuan Kemendagri tentang pelantikan pejabat di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) saat maraknya gelombang protes yang mendesak dianulirnya pasangan petahana yang kembali berkontestasi, cukup menyentak berbagai kalangan.
MPD (Manado post digital), media pertama yang mengangkat soal ini di edisi Jumat, 6 September 2024, menulis persetujuan Kemendagri atas pelantikan yang dilakukan Pemkab Minut dan dituangkan dalam sebuah surat kepada Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dan oleh OD dikirimkan pada subuh di hari tersebut ke media ini.
Intinya, Kemendagri yang merespon surat Bupati Minut Nomor 1044/BMUNIW20224 tanggal 16 Agustus 2024, melalui Plh. Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Komjen Pol. Drs. Tomsi Tohir, MSi, menegaskan pelantikan di Minut tanggal 22 Maret 2024
itu disetujui dan tak melanggar Pasal 71 ayat 2 UU No. 10/2016.
Hiruk-pikuk di media sosial maupun online pun sejenak mereda pada pagi hingga siang di hari Jumat itu. Tapi, sore hingga malam kembali ramai. Kali ini pemberitaan maupun postingan di medsos mengarah ke Kota Bunga, Tomohon.
Surat Kemendagri ke Gubernur OD yang beredar luas yang memang hanya spesifik mencantumkan Kabupaten Minut, dinilai tidak sekaligus berlaku bagi Kota Tomohon yang juga melaksanakan pelantikan pejabat di tanggal yang sama, 22 Maret 2024.
Tak berselang lama, kemudian beredar pula surat sejenis yang sudah mencantumkan nama Kota Tomohon. Namun, protes ternyata masih berlanjut. Surat ini dianggap sebagai editan oknum di Pemkot Tomohon dan sengaja disebar untuk meredam berbagai tudingan bagi Caroll Senduk, petahana yang bertarung lagi di Pilkada Serentak 2024.
Hingga hari Senin (9/9/2024) siang, tak satupun konfirmasi atas gonjang-ganjing
tersebut. Termasuk Gubernur OD sendiri. Hanya Caroll Senduk yang bersuara saat ditanya wartawan di sebuah acara di Jakarta. “Kita (saya) tre tenang-tenang, santai, ngoni (kalian) yang bingo (bingung). Semua sudah diperhitungkan,” katanya singkat mengulangi apa yang sudah pernah dia katakan beberapa waktu lalu.
Dari sini, saya mencoba menebak, apa kira-kira yang ada di benak OD. Strategi apa yang sedang dijalankan. Kenapa Tomohon tidak diumumkan bersamaan dengan Kabupaten Minut, sedangkan sama-sama melakukan rolling pejabat di hari yang sama ?
Harus diakui, OD adalah politikus ulung, tak hanya seukuran Sulut, tapi juga nasional. Di tangannya PDIP Sulut menguasai hampir seluruh kepala daerah dari 15 kabupaten/kota. Demikian pula dengan peroleh kursi di legislatif Pemilu 2019 dan kemudian 2024.
Apakah OD sedang menerapkan tak-tik yang kerap kali dilakukan para petarung di olahraga bela diri, bahwa “membiarkan” dirinya diserang untuk mengukur sampai di mana amunisi dan kekuatan lawan sekaligus membaca titik lemah kompetitor ?
Maklum, bahwa di Tomohon itu salah satu lawan Caroll Senduk itu adalah Wenny Lumentut yang dikenal dekat dengan OD dan mantan Wakil Ketua DPD PDIP Sulut (jika bertolak dari SK Pengurus DPD PDIP 2024 yang beredar).
Selain itu, sang rival juga pernah dipercaya Prabowo Subianto menakhodai DPD Gerindra Sulut dan duduk dalam jabatan Wakil Ketua DPRD Provinsi dari partai itu (belakangan kedua jabatan itu dilepas). Sementara, Sendy Rumajar, pendamping Caroll Senduk di Pilkada ini berasal dari Partai Gerindra. Wenny Lumentut sendiri kini maju memperebutkan kursi Wali Kota Tomohon dari jalur independen.
Kalah di perhelatan Pilpres, tapi OD mampu menepis efek ekor jas pencalonan Prabowo Subianto, sehingga PDIP tetap berjaya di Sulut dalam hal raihan suara pemilihan legislatif dengan jumlah kursi terbanyak di dewan.
Sengaja “membiarkan” calonnya di Tomohon diserang habis habisan ala strategi petarung
olah lahraga bela diri itukah yang sedang dimainkan OD ?
Hanya dia dan orang dekatnya yang tau. Dan Tuhanlah yang akan menentukan.(deky geruh, jurnalis).
Disclaimer: Tulisan ini hanya analisa awam dan tidak ditujukan untuk mewakili kepentingan siapapun, sekaligus tidak untuk mendiskreditkan siapapun juga.
Artikel
Erick Thohir Harus Mundur: Pertanggungjawaban atas Mega Korupsi di PT Pertamina

Oleh: Ali Syarief_
Ketika berbicara tentang tanggung jawab seorang menteri, khususnya dalam mengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), integritas dan akuntabilitas adalah dua hal yang mutlak. Erick Thohir, sebagai Menteri BUMN, semestinya memahami bahwa mega korupsi yang terjadi di PT. Pertamina bukan hanya sekadar skandal keuangan, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistemik dalam kepemimpinannya.
Ironisnya, alih-alih menunjukkan rasa tanggung jawab yang mendalam, Erick Thohir justru masih bisa tampil dengan wajah sumringah di depan publik, seolah tidak ada hal besar yang harus dipertanggungjawabkan.
Kasus korupsi di PT. Pertamina yang merugikan negara hingga triliunan rupiah seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah. Ini bukan sekadar kesalahan individu atau oknum tertentu, tetapi bukti nyata dari kelemahan pengawasan dan tata kelola yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh seorang Menteri BUMN.
Dalam sistem pemerintahan yang sehat, setiap menteri yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik harus siap mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral. Namun, yang kita saksikan adalah sikap sebaliknya: pembelaan diri tanpa refleksi dan tanpa konsekuensi nyata.
Sikap Erick Thohir yang terkesan santai di tengah besarnya skandal ini justru memperburuk citra pemerintahan Jokowi di masa lalu, yang dilanjutkan Presiden Prabowo saat ini.
Masyarakat berhak mempertanyakan, apakah pemimpin seperti ini yang layak dipercaya mengelola aset-aset negara? Jika seorang pejabat publik tidak merasa malu atau terbebani dengan keterlibatan kementeriannya dalam kasus korupsi besar, maka ini adalah sinyal buruk bagi masa depan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan.
Keengganan untuk mundur menunjukkan bahwa pejabat di Indonesia masih jauh dari budaya pertanggungjawaban politik yang seharusnya.
Di negara-negara dengan sistem demokrasi yang matang, seorang pejabat yang institusinya tersandung skandal besar akan segera mengundurkan diri sebagai bentuk penghormatan terhadap jabatan yang diembannya.
Namun di Indonesia, jabatan justru dipertahankan mati-matian meskipun kepercayaan publik sudah jatuh ke titik terendah.
Mega korupsi di PT. Pertamina seharusnya menjadi momentum untuk perbaikan, bukan justru ditutupi dengan berbagai narasi pembelaan yang menyesatkan.
Jika Erick Thohir benar-benar memiliki integritas, seharusnya ia tidak menunggu desakan publik untuk mundur, melainkan secara sukarela mengambil langkah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.
Lebih jauh, bukan hanya pengunduran dirinya yang dituntut, tetapi juga langkah hukum yang tegas untuk menyeret semua pihak yang terlibat dalam skandal ini.
Negara ini membutuhkan pemimpin yang berani menghadapi konsekuensi dari kegagalan mereka, bukan yang sekadar lihai berkomunikasi dan mencari perlindungan politik.
Jika budaya impunitas seperti ini terus dibiarkan, maka jangan heran jika kasus-kasus korupsi semakin menggurita dan kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin runtuh.
Erick Thohir, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kebijakan di BUMN, tidak boleh hanya diam dan terus menjalankan tugasnya seolah tidak ada yang terjadi.
Sudah saatnya bagi dia untuk mundur dan mempertanggungjawabkan kegagalannya dalam mengelola perusahaan-perusahaan negara dengan baik. (*)
Artikel
Bitung Pada Satu Titik: DARI MMHH KE HHRM

By : Kex
Tidak ada satu rezim yang bersifat permanen, pun di tata kelola pemerintahan. Setiap periode selalu akan ditandai munculnya sosok pemimpin baru apakah dari satu warna politik yang sama ataupun berbeda.
Entah apakah pula proses pergantian itu berlangsung mulus atau pun berjalan penuh diksi dan kontraksi, tetap juga semua akan bermuara pada satu titik : suksesi kepemimpinan.
Begitupun yang terjadi saat genta pelantikan serentak ditabuh, mereka yang dilantik segera kembali ke daerah masing masing dan memulai agenda membumikan visi misi dan program prioritas sebagaimana yang didengungkan selama kampanye.
Itu pula yang sementara berproses di kota Bitung, pasca era Maurits Mantiri selesai, lokomotiv kepemerintahan ada dalam tuas gerak Hengky Honandar dan Randito Maringka.
Seperti apapun konstalasi yang ada, sudah menjadi sebuah kemestian agar semua komponen memberi ruang seluas mungkin bagi HHRM untuk membangun kota ini.
Energi dan spirit objektif serta konstruktif harus lebih dominan mendapatkan ruang menindih sikap kenes, infantil dan aroma rivalitas yang masih merebak secara sporadis.

Saatnya move on memberi ruang dan suport bagi kepemimpinan baru membangun kota ini menjadi lebih baik. Bahwa lepas dari kekurangan dan kelemahan MM tetap telah mematri karya selama kepemimpinannya, saat ini tongkat kepemimpinan dipercayakan kepada sosok HH yang memiliki kematangan emosional dan spirituil, disokong energi muda RM, kolaborasi mereka akan efektif jika disuport secara proporsional oleh semua lini dengan tetap memberi ruang bagi mekanisme kontrol publik secara kritis etis.
Akhirnya banyak selamat HHRM selamat menapaktilasi esensi kepemimpinan sebagaimana frasa George R. Terry, “Kepemimpinan adalah kegiatan memengaruhi orang lain agar mau berjuang demi tujuan bersama”.
Terimakasih buat BPK Maurits Mantiri atas kiprah satu periode dan selamat melayani untuk Walikota Hengky Honandar dan Wakil Randito Maringka. Selamat membangun kota Bitung yang makin baik.(*)
Artikel
Meresapi Lelehan Senjakala(Refleksi Dua Puluh Lima Tahun Kembara Media)

Oleh : Emon Kex Mudami
The World is Flat….., (Thomas Friedman)
Apakah catatan sederhana ini terlecut oleh momentum Hari Pers 9 Februari baru lewat, entahlah. Yang pasti saya lebih nyaman menyebut sebagai proses berkontemplasi, berefleksi atas dunia (ke)media(an) atau jurnalis yang sudah —atau boleh juga baru- digeluti 25 tahun terakhir.
Ketika era makin terdigitalisasi, bidang media informasi komunikasi (mainstream, terutamanya surat kabar), termasuk salah satu yang mengalami efek melting (pencairan) dari konsep kerja sebagaimana biasa.
Fase senjakala media cetak ini perlahan namun pasti, terus merambah dari belahan barat sampai ke ceruk Asia.
Linier dengan gerak pelelehan itu, para pewarta melakukan apa yang saya sebut sebagai proses beradaptasi terhadap seleksi alam yang sementara berlangsung.
Sedikitnya ada tiga corak survive yang terlihat, pertama yang murni bertahan sambil melakukan berbagai inovasi (?) terhadap pasar yang sebetulnya sudah nyaris jenuh, kedua yang secara bertahap bersulih pola dari mainstream ke online atau alternative, dan ketiga mungkin ini lebih pas pada tataran personal adalah yang memilih total berkiprah di luar media.
Tentu pemetaan rada prematur di atas lebih bersifat amatan empiris belaka dan masih sangat terbuka ruang divisualkan lebih smooth lagi.
Saya selalu mengambil posisi memaklumi pilihan yang diambil oleh masing masing pekerja di bidang ini terutama kaum pewarta, sah saja kita memiliki pretensi dan sikap beragam terhadap proses yang ada.
Olehnya saya tidak bisa mendebat misalnya, jika —ijin- senior Joppie Worek telah hampir sepuluh tahun silam mengakui mulai tidak lagi membaca suratkabar karena langsung nyetel dengan android di mana media mainstream maupun alternative berselieweran tanpa batas.
Belakangan sosok yang total hampir 34 tahun aktif sebagai jurnalis itu menyebut memilih jadi WMS alias Wartawan Media Sosial, sekadar menyalurkan kesukaan menulis.
Namun di situasi yang lain, memaklumi mereka yang tetap bertahan melakoni rutinitas profesi, seolah putaran kaki sang waktu belum digerus oleh globalisasi dan high tech.
Adanya pernyataan masih terus belajar sebagai jurnalis misalnya, bisa dipetakkan sebagai sebuah bentuk totalitas walau tetap saja paradoks diperhadapkan dengan gerak jaman kekinian .
Saya meminta maaf, lebih dari sekali mendebat cukup sengit, teman teman yang masih eksis perihal kekauan mereka dalam mengeksekusi era keterbukaan media saat ini.
Saya berpikir ketika nyaris semua pintu multi media terkuak dan bisa diakases dengan mudah oleh netizen, sejogjanya pelaku media juga berlaku lebih terbuka dengan memberi akses seluas-luasnya ruang atau space media terhadap publik.
Bahwa dengan pertimbangan, seperti kata Friedman saat ini dunia telah menjadi datar bahkan tanpa batas (borderless), di mana koneksi publik dengan media tidak sesulit dulu, seseorang yang tidak memiliki bekal ilmu wartawan sekalipun, secara spontan bisa menampilkan news dengan unsur 5W + 1H meski serampangan melalui akun, grup atau berbagai instrumentasi lainnya.
Frame ini yang sepertinya luput dipertimbangkan, dengan kata lain jika dulu saluran publik masih sangat terbatas hanya pada kanal atau ruang media mainstream, namun saat ini ruang itu telah jauh meleleh.
Publik dapat berinteraksi secara massif baik melalui media online ataupun media alternative.
Inilah cuilan potret media kekinian, dimaui atau tidak khusus main stream akan tiba pada tingkap paling nadir, senja yang paling senja.
Mengutip terminilogi Kementerian Kominfo, dalam konteks pemasaran media mainstream tengah menghadapi vonis mati. Orang-orang media perlu bersegera menata diri, beradaptasi dengan era konvergensi .
Dalam motivasi ber-konvergen itu, mohon maaf jika kemarin saya sempat mencandai seorang sahabat melalui percakapan via wa, ia mengatakan hendak mengecek kerjasama media dengan Pemkot Bitung.
Saya mengatakan orang sekaliber dia, mestinya punya olahan lain yang lebih menantang lagi, terutamanya mengeksplorasi ruang yang direbak era digital saat ini.
Apakah kalimat itu ia terima sebagai sebuah tantangan atau apa, tetapi jika hendak memberi pilihan, maka saya berharap ketika menerima kabar, maka yang datang adalah konsep garapan yang lebih mutakhir dan factual lagi.
Maaf jika saya telah hampir sampai di ujung kembara dari labirin era mainstream.(*)
-
Headline4 minggu ago
Wali Kota Caroll Senduk Ajak ASN Lepas Perbedaan, Jangan Coba-coba Ganggu Keharmonisan Kami
-
Headline4 minggu ago
WL, SAS & Aseng Pesta di Luar Negeri, ASN Tomohon Ger-ger Menunggu Reret
-
Headline2 minggu ago
Bayar THR ASN dan PPPK, Pemerintahan CSSR lucur Rp13,3 Miliar
-
Manado3 minggu ago
Sofian ‘Papar’ Daipaha, Undang Jurnalis di Open House
-
Talaud2 minggu ago
Matangkan Persiapan PSU, KPU Talaud Lantik 62 KPPS Kecamatan Essang
-
Headline2 minggu ago
Turun Langsung Tinjau Lokasi Terdampak Banjir dan Longsor,Wawali Sendy Rumajar Sambangi Lokasi Pengungsian
-
Ekonomi2 minggu ago
Bukber Dengan Pers, Lembong Optimis Astra Daihatsu ‘Raja’ Otomotif di Sulut