Connect with us

Artikel

Godbless dan Alarm yangTak Pernah Kita Jawab

Redaksi

Published

pada

By

558080760 10235886983347457 3384020452445851047 n

By : Raymond Kex Mudami

Godbless Solang baru berusia empat belas tahun. Usia ketika hidup seharusnya masih seperti pagi—jernih, terbuka, dan penuh kemungkinan.

Namun di Mahakeret Barat, malam memilih jalan lain. Sebilah pisau lebih dulu tiba daripada masa depan.

Darah yang jatuh di jalan itu bukan hanya milik Godbless. Ia adalah darah dari kelalaian yang kita rawat pelan-pelan: amarah yang dibiarkan tumbuh, senjata yang mudah berpindah tangan, perkelahian kecil yang tak pernah benar-benar dipatahkan sejak awal.

Kita terbiasa menunggu luka dulu, baru sibuk menghitung sebab.
Setiap tragedi selalu kita sambut dengan suara keras: hukum, pasal, penjara.

Semua itu akan datang—seperti hujan setelah kemarau panjang. Tetapi hujan tidak menghidupkan kembali benih yang sudah mati.

Hukuman selalu tiba setelah nyawa menyerah.
Yang jarang kita rawat adalah pencegahan.

Padahal di sanalah hidup diselamatkan. Di sana peringatan dibaca sebelum berubah menjadi kabar duka.

Di sana anak-anak muda disentuh sebelum kemarahan menjelma keputusan yang tak bisa ditarik pulang.

Sulawesi Utara telah berkali-kali diingatkan. Seolah tanah ini sedang berkata lirih namun terus-menerus: awas.

Tetapi kita lebih sering menutup telinga, sibuk dengan rutinitas, sibuk mengira semua akan baik-baik saja.

Sampai satu nama lagi ditambahkan ke daftar yang tak pernah kita inginkan.
Godbless bukan sekadar korban.

Ia adalah cermin. Tentang betapa kita gemar bereaksi, tetapi enggan berjaga. Tentang betapa kita pandai menghukum, namun malas mencegah.

Tentang betapa nyawa sering kalah cepat dari amarah—dan kita selalu datang terlambat.
Pada akhirnya, tidak ada kata yang benar-benar sanggup menebus satu nyawa. Tetapi kita masih punya satu kesempatan: belajar sebelum kehilangan kembali mengetuk pintu.

Godbless Solang tak bisa kita panggil pulang, namun kematiannya dapat menjadi batas—antara kelalaian yang diulang dan kesadaran yang dijaga.

Diam kali ini bukan pilihan. Diam adalah izin. Dan berjaga, betapapun sunyi, adalah bentuk paling jujur dari kasih.

Semoga setelah ini, kita memilih untuk lebih awas—sebelum malam kembali meminta korban.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUT TOMOHON
116 Kotamobagu
Pemenang CIMB Niaga
Regarsport
Regarsport
Pegadaian

Sosial Media

/** * Use the following code in your theme template files to display breadcrumbs: */