Manado
Ada Apa Syalomita Angela Motulo CS di PLN ULP Manado Selatan? Ini Jawabannya!
MANADO,mediakontras.com – Nama Syalomita Angela Motulo dan tiga rekannya mungkin baru dikenal di lingkungan PLN ULP Manado Selatan.
Namun, selama tiga bulan ke depan, keempatnya akan menjadi bagian aktif dari tim, khususnya dalam mengamati dan mempelajari langsung penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan.
Mereka adalah mahasiswa magang yang meninggalkan sementara bangku kuliah untuk menyelami praktik nyata dunia kerja.Sorot langsung praktek K3 dari kampus ke lapangan.
Syalomita bersama Kenly Yohanes Yunior Wehantow, Evan Rafael Lumansik, dan Ruben Timotius Mongkaren adalah mahasiswa Semester 5 Program Studi K3 dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Gunung Maria Tomohon.

Magang ini menjadi jembatan penting antara teori di kampus dan realitas di tempat kerja, khususnya di perusahaan besar seperti PLN.
Syalomita gadis hitam manis, yang merupakan satu-satunya wanita dalam kelompok tersebut, mengungkapkan antusiasmenya kepada mediakontras.com.
“Dengan terjun langsung bersama petugas PLN, kami mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga. Ini adalah bekal praktis yang tak ternilai sebelum nantinya kami terjun bekerja setelah lulus,” ujarnya.
Ia menambahkan, pilihan magang di PLN UP3 Manado, dengan penempatan di ULP Manado Selatan, adalah suatu kebanggaan.
“Kami bisa menyaksikan dan belajar langsung bagaimana praktik K3 yang ketat diterapkan PLN dalam setiap pekerjaan di lapangan. Ini bukan hal sepele, karena menyangkut keselamatan dan nyawa manusia,” tegas Syalomita dengan serius.
Baginya, komitmen terhadap K3 adalah hal wajib yang mendasari pilihan mereka menekuni jurusan ini di kampus yang berlokasi di Jalan Florence, Kolongan, Tomohon Tengah, Sulawesi Utara.
Menanggapi kehadiran para mahasiswa, Manager PLN ULP Manado Selatan, Reagen Jacobis, menyambut positif.
Ia menegaskan bahwa kehadiran para calon ahli K3 ini sejalan dengan nilai-nilai perusahaan.
“Kehadiran mereka kami manfaatkan untuk memperkuat pemahaman bahwa K3 adalah kewajiban mutlak dan budaya kerja yang tidak bisa ditawar. Kami tidak hanya memberikan teori, tetapi langsung mengikutsertakan mereka dalam tugas pendampingan kepada petugas kami yang sedang menjalankan pekerjaan di lapangan,” pungkas Reagen.
Dengan model pembekalan langsung seperti ini, diharapkan Syalomita dan rekan-rekannya tidak hanya pulang membawa sertifikat magang, tetapi juga pengalaman nyata, jaringan profesional, dan kesadaran mendalam tentang tanggung jawab menjaga keselamatan setiap pekerja sebuah nilai yang menjadi inti dari profesi yang mereka tekuni.(*)