Artikel
23 TAHUN KOTA TOMOHON: “TRANSFORMASI EKONOMI DIGITAL DAN MISI HILIRISASI DARI KAKI GUNUNG LOKON”
Penulis: Stefy Edwin Tanor, SE, Ak, MM
(Ekonom, FORTRAN)
Dua Puluh Tiga tahun perjalanan administratif telah dilalui, namun jiwa Kota Tomohon sebagai Kota yang diberkati alam dan kecerdasan warganya telah tumbuh jauh lebih lama. Kota yang diperjuangkan dengan kesungguhan cita dan harapan, maju dan berkembang setara dengan daerah kota lainnya di Indonesia, oleh maesteo politik Tomohon, Jeferson SM Rumayar SE dan kawan-kawan. Rasanya harus tetap berjuang dan tidak boleh berhenti melalui ide dan gagasan pembangunan, agar Tomohon lebih berakselerasi dan memiliki energi dalam pembangunannya.
Dihari ulang tahun kota yang kita cintai ini, 27 Januari 2026, kita tidak hanya merayakan bertambahnya usia, tetapi juga momentum “Kebangkitan Ekonomi” yang lebih inklusif. Sebagai rakyat Tomohon, kami melihat Tomohon bukan sekedar barisan perbukitan hijau dan hamparan bunga, melainkan sebuah “mesin ekonomi” potensial yang sedang bertransisi menuju efisiensi tinggi, economiv of scale. Tantangan global memang nyata, tapi dengan fondasi akuntabilitas yang kuat dan manajemen sumber daya yang presisi, Tomohon kini berada diambang transformasi dari kota agraris menuju pusat ekonomi kreatif berbasis pariwisata yang berkelanjutan.
MENAKAR DENYUT NADI EKONOMI: ANGKA YANG BERBICARA
Secara makro, potret ekonomi Tomohon diawal 2026 menunjukan resiliensi yang membanggakan. Laju Pertumbuhan Ekonomj (LPE) kita diprediksi stabil diangka 5,7%. Angka ini bukan sekedar statistik diatas kertas; ini adalah sinyal bahwa roda produksi dan konsumsi di tingkat rumah tangga terus bergerak positif. Sejalan dengan itu, PDRB per Kapita masyarakat Tomohon terus bergerak naik, mencerminkan peningkatan produktif dimana setiap individu berkontribusi lebih besar terhadap nilai tambah ekonomi daerah, terutama melalui sektor jasa dan perdagangan modern.
Salah satu mesin utama pertumbuhan ini adalah Tomohon International Flower Festival (TIFF). Secara ekonometrik, TIFF adalah mesin multipliet effect – efek pengganda, yang luar biasa. Investasi pemerintah dalam pergelaran ini terbukti mampu menarik “capital inflow” yang menghidupkan UMKM dan memperkuat “brand positioning” Kota Tomohon di peta dunia.
INVESTASI TERBESAR: HUMAN CAPITAL DAN TANTANGAN PENGANGURAN.
Kekuatan sejati Tomohon terletak pada manusianya. Dengan Index Pembamgunan Manusia (IPM) yang telah menembus angka 83,50, Tomohon kokoh berada dalam kategori “SANGAT TINGGI” ini membuktikan bahwa modal manusia (human capital) kita adalah aset terbaik untuk mendukung ekonomi masa depan.
Namun tentunya pertumbuhan ekonomi yang tinggi haruslah bersifat inklusif. Kita masi memiliki pekerjaan rumah dalam menekan Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) yang saat ini berada di kisaran 5,0%. Tentu sebagai praktisi manajemen, saya melihat adanya “mismatch” antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Dan solusi untuk ini adalah strategi “Link and Match” melalui revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan digital agar tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi penonton, tapi pelaku utama.
HILIRISASI PERTANIAN DAN AGROWISATA: KUNCI NILAI TAMBAH
Hilirisasi adalah harga mati bagi kemandirian ekonomi Tomohon. Kita tidak boleh lagi terjebak menjual komoditas mentah; konkritnya: industri florikultura kita harus bergerak ke pengolahan minyak esensial atau produk turunan bunga lainnya. Begitu juga dengan hortikultura; pengolahan buah dan sayur menjadi produk “frozen food” atau gula aren menjadi gula semut brown sugar) berkualitas ekspor akan meningkatkan margin keuntungan petani secara signifikan.
Langkah ini harus dipadukan dengan konsep Agrowisata – seperti konsep petik sendiri di Rurukan (petani strawbery) yang menciptakan pendapatan ganda bagi warga dari hasil tani sekaligus jasa pariwisata.
PERAN DINAS PERDAGANGAN: MENJADI BRIDGE KE PASAR GLOBAL.
Efisiensi produksi akan sia-sia tanpa akses pasar. Dinas Perdagangan harus mampu bertransformasi menjadi “market maker”. Pemerintah Kota harus proaktif melakukan “market hunting” dan memfasilitasi “business matching” secara on line antara petani Tomohon dengan buyer besar di mancanegara.
Digitalisasi petani menjadi keharusan yang jangan ditunda-tunda. Pemerintah harus memberi pelatihan literasi digital, mulai dari manajemen “market place” hingga “digital marketing”. Peran pemerintah adalah menjamin bahwa produk hasil bumi Tomohon memiliki alamat yang jelas, bahkan sebelum masa tanam dimulai. Inilah yg disebut dengan Manajemen Ekonomi Presisi yang akan memotong rantai distribusi panjang yang selama ini merugikan petani kita.
Akhirnya:
HUT Kota Tomohon ke-23 adalah garis start menuju estafet pembangunan yang lebih kencang. Dengan modal manajemen daerah yang akuntabel, transparansi keuangan yang terjaga, oleh Walikota Caroll JA Senduk SH dan Wakil Walikota Sendy GA Rumayar SE, Mi.komp, dimana modal integritas dan kejujuran yg utama dalam bisnis akan mengundang banyak investor berkontribusi di Kota Tomohon.
Mari kita pastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil hari ini adalah investasi untuk masa depan anak cucu kita. Selamat hari jadi Kota Tomohon. Mari bekerja dengan data, membangun dengan hati dan bertumbuh dalam integritas…Tomohon hebattt… (*)